Rabu, 22 Oktober 2008

R 'n' B

Jika dilihat judulnya, sepintas kita menyangka akan disuguhkan cerita-cerita yang berbau musik dengan genre Rhythm and Blues, yang biasa dibawakan oleh para black community. Namun tulisan berjudul R ’n’ B akan bercerita sedikit tentang apa itu Ramalan dan Bintang. Tema yang cukup sederhana, banyak terdapat di banyak media dan termasuk dalam bagian bacaan yang ringan. Namun untuk yang satu ini, saya mengingatkan kita untuk perlu berhati-hati, apalagi diri kita sebagai muslim. Ramalan bintang selalu membuat orang jadi tertarik, hampir setiap orang akan menyukainya, dan terus berkembang sesuai dengan zamannya. Apa yang harus kita perhatikan tentang ramalan bintang?

Sebagai seorang muslim, seringkali kita berbuat dosa, entah itu dalam keseharian beribadah ataupun dalam bermuamalah. Namun ada dosa besar yang tidak akan diampuni Allah yaitu syirik. Syirik atau menyekutukan Allah adalah perbuatan yang tidak akan diampuni dikarenakan seorang makhluk memiliki illah yang lain, entah itu disengaja ataupun tidak. Apa kaitanya antara ramalan bintang dan syirik. Ramalan bintang adalah salah satu perangkap syetan untuk menjerumuskan hambanya ke lembah keterpurukan. Ramalan bintang dibuat untuk menduga-duga apa yang terjadi di masa sekarang dan mendatang. Pada kenyataannya dugaan ini adalah berita-berita kosong belaka yang disampaikan oleh syetan melalui antek-anteknya seperti dukun, peramal, para pemakai kartu tarot ataupun lainnya. Perasaan untuk menduga-duga tentang baik-buruk hidup seorang makhluk dengan dikaitkan dengan kepada perbintangan adalah bagian dari kesyirikan. Padahal tidak ada satu makhluk pun yang mengetahui berita-berita mengenai qadha dan qadar. Sebagaimana yang termuat didalam Surat Al An’am ayat 59, disebutkan bahwa :

”Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”

Terkadang ada juga yang berkilah bahwa mereka hanya untuk membaca saja dan tidak bermaksud untuk mempercayainya. Namun sesungguhnya hal tersebut pun sama saja, karena kita juga dianggap telah bermain-main dengan kemusyrikan. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas Radhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda :

"Barangsiapa yang mempelajari ilmu dari bintang-bintang, berarti telah mempelajari salah satu cabang dari ilmu sihir. Semakin bertambah ilmunya, semakin dalam ia mempelajari sihir tersebut."

Didalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dikatakan bahwa : “Barangsiapa yang mendatangi peramal, lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari.” Membaca ramalan bintang, pada hakikatnya dapat dipersamakan halnya dengan mendatangi peramal, karena produk yang dihasilkannya sama saja yaitu ramalan dengan tipuan kosong belaka. Untuk perbuatan membaca ramalan saja, maka kita harus menanggung akibat dengan tidak diterimanya ibadah shalat selama 40 hari. Apatah lagi jika kita mempercayainya. Maka kita akan benar-benar digolongkan sebagai orang yang musyrik. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Hakim, Rasulullah SAW bersabda :

“Barang siapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun, lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka ia telah kufur dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad Shallahu alaihi wasallam.” (Hadits Shahih Riwayat Imam Ahmad dan Hakim)”.

Tulisan ini hanya untuk mengingatkan kembali bahwa perangkap setan untuk membawa manusia kepada kesesatan itu tak terhitung jumlahnya. Terkadang karena ketidaktahuan kita, kemalasan untuk bertanya ataupun ketidakperdulian kita terhadap sesuatu hal yang penting menyebabkan kita terperosok lebih jauh. Ramalan bintang mungkin hal yang dianggap sangat sepele, tetapi dengan kemajuan zaman, sekarang ia telah berkelindan dengan teknologi informasi, melalui content sms di banyak operator seluler dan juga diberbagai website. Akhirnya kita sendiri yang akan menentukan pantas atau tidaknya ramalan bintang itu ada di media. Jika kita tidak mampu melenyapkannya, setidaknya kita menghindari untuk tidak sekali-kali berinteraksi dengannya. Akibatnya teramat fatal, sanggupkan kita menerima predikat sebagai golongan musyrik. Jika Yang Maha Pengampun saja tidak akan mengampuni, kepada siapa lagi kita meminta ampun.? Semoga ini menjadi bahan renungan kita bersama.

- Wallahu ’alam -

Jumat, 17 Oktober 2008

Adversity Quotient

Setiap manusia pasti memiliki kesulitan yang beragam, karena dalam hidup memang ada masalah. Namun tidak semua manusia bisa kuat dalam menghadapi masalahnya. Ada yang karena masalah yang dirasa teramat berat sehingga menimbulkan stress ataupun yang pada akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidup, karena sudah begitu tertekan dengan masalah. Naudzubillah.!!! Cara penyelesaian yang tidak hanya mencoreng nama selamanya, lebih dari itu, tentu akan sangat merepotkan bagi mereka yang ditinggalkan. Sehingga kalau dulu orang menilai kekuatan seseorang itu dapat diukur dari seberapa tingginya IQ seseorang, sekarang tidak lagi seperti itu. Perlu dilihat juga bagaimana tingkat daya tahan manusia ketika mereka didera permasalahan.

Paul Gordon Stoltz dalam bukunya yang berjudul Adversity Quotient : Turning Obstacles Into Opportunities dengan sangat menarik menceritakan bahwa seorang manusia yang kuat itu juga dapat dilihat dari bagaimana daya tahan mereka ketika mendapatkan permasalahan dan seberapa tangguh mereka menghadapi tantangan. Inilah langkah kesuksesan yang disebut olehnya sebagai AQ (Adversity Quotient). Ia menggambarkan bahwa sudah sifat diri manusia untuk maju berjuang, yang diistilahkan olehnya sebagai climbing. Tetapi pada akhirnya tidak semua dari mereka yang bisa sukses dalam pendakiannya. Untuk hal tersebut, Stoltz kemudian membagi manusia menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu :

1. The Quitters, mereka adalah orang-orang yang baru mau mendaki tetapi ketika melihat tebing yang sedemikian terjal dan banyaknya rintangan yang bakal dihadapi, mereka mundur dengan teratur. Mereka ibaratnya seperti pasukan yang lari sebelum berperang, dan akhirnya berpuas diri dengan menjadi penonton saja.

2. The Campers atau bisa disebut juga orang-orang yang berkemah. Tidak sepert the quitters yang langsung lari meninggalkan arena pertempuran, the campers adalah mereka yang berusaha untuk mendaki. Namun ditengah perjalanan yang sulit terdapat tempat yang lebih landai dan banyak terdapat kesenangan disana, maka disementara waktu mereka berkemah dahulu. Namun seiring dengan waktu, the campers ini enggan untuk mendaki lebih tinggi lagi, karena mereka sudah merasa cukup dengan apa yang ada. Pada akhirnya disanalah mereka tinggal, menjadi penikmat sesaat dan tidak berani mengambil resiko lebih jauh. Padahal dengan kemampuan yang dimilikinya, mereka sanggup untuk mendaki lebih tinggi.

3. The Climbers, inilah yang disebut para pendaki yang sebenarnya. The Climbers adalah orang-orang yang terus bergerak maju, tidak menghiraukan kenikmatan-kenikmatan sesaat yang mungkin ia raih selama perjalanannya. The Climbers adalah mereka yang tangguh menghadapi tantangan, tidak kenal lelah, dan tidak merasa cepat berpuas diri, sebelum mencapai puncak yang diinginkan. Mereka teramat menyadari bahwa berhenti sesaat atau berniat mundur adalah suatu kekalahan, dan juga mereka meyakini kenikmatan yang mereka lalui selama pendakian hanyalah fatamorgana.

Bagaimana dengan kita? Seberapa tinggikah AQ kita? Tentu kita sendiri yang dapat menjawabnya, karena yang mengenal persis diri ini adalah kita sendiri. Ya..... hanya kita. Menjadi The Quitters, The Campers, atau The Climbers adalah pilihan. Versi pilihan tiap orang tentu berbeda-beda, tetapi panduan untuk menuju kesana, saya pikir yang terbaik itu adalah sama, yaitu menjadi The Climbers. AQ sendiri bukanlah suatu hal yang given, ia bisa berubah setiap saat. Setiap orang pasti bisa meningkatkan AQ-nya dengan terus menerus berlatih menguji tempaan hidup dan bagaimana cara pandang mereka ketika diberikan tantangan. Bukankah yang mulia Rasulullah SAW juga telah mencontohkannya kepada kita. Pada saat beliau ke Thaif, masyarakat disana melempari dengan batu. Apakah beliau mundur dari mendakwahi mereka. Tidak….. sekali kali tidak. Rasulullah tidak pernah mundur dari dakwah. Apakah kemudian ia mengiyakan permintaan malaikat penjaga Gunung Uhud untuk menimpakan gunung itu kepada mereka? Tidak…! Rasulullah tidak memintanya. Kenapa ini terjadi? Karena Rasulullah menyadari bahwa mereka berbuat demikian, karena mereka tidak tahu. Selain itu beliau juga memiliki daya tahan yang kuat untuk menyelesaikan masalah dan tetap tangguh dengan apapun tantangan yang dihadapi. Itulah AQ yang sebenarnya. Sebagai umatnya, tentu kita ingin mengikuti apa yang dicontohkan beliau. Ia telah mencontohkan AQ yang teramat kuat, siapkah kita mengikutinya wahai umat pecinta Rasulullah ?

Berdoa dan berusaha

Wallahu ‘alam

Rabu, 15 Oktober 2008

Ada Apa Dengan Film di Riau ?

Berbicara mengenai hiburan, tentulah setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda. Karena memang yang menghibur setiap orang itu juga berbeda. Ada yang mendengarkan musik sudah merasa terhibur, ada yang ketika bertemu soulmatenya mereka terhibur, menonton film juga bisa membuat terhibur, atau yang lainnya yang menurut orang lain aneh, tetapi dia merasa terhibur. Terkhusus berbicara tentang film. Para pecinta sineas sendiri memiliki selera yang unik, malah terkadang lain daripada yang lain. Tapi satu hal yang pasti para pelaku industri film tahu persis apa sesungguhnya dibutuhkan oleh para penikmat film tersebut. Tiap orang tentu memiliki genre film sendiri sehingga ia merasa terhibur ketika menontonnya, dan memang saya pikir itulah yang dibidik oleh para pelaku di industri perfilman dimanapun di seluruh dunia.

Film selain menghibur juga membawa pesan tersendiri. Setiap film pastilah memiliki pesan yang ingin disampaikan entah itu baik menurut kita ataupun tidak. Sehingga di zaman orde baru dulu setiap film harus melalui proses seleksi yang ketat untuk bisa ditayangkan. Hanya film-film yang menurut pemerintah layak sajalah yang bisa beredar di bioskop-bioskop seantero Indonesia. Di era reformasi yang lebih terbuka pada saat ini, industri film semakin menggeliat. Puluhan judul muncul dan bahkan film-film bergenre horror laris manis bak kacang goreng. Kemudian film-film bertema cinta remaja juga saling bersaing memperebutkan pasar yang sedang naik daun ini.

Bagaimana dengan pelaku perfilman di Riau. Yang paling sederhana dari para pelaku di bidang perfilman ini adalah pengelola bioskop yang muncul di beberapa tempat di Riau. Pilihan film apa yang akan ditayangkan, berapa lama film tersebut tayang dan seberapa sering diputar, mereka semua yang menentukan. Masyarakat cuma diberi pilihan mau menonton atau tidak. Jika tidak mau menonton, terserah. Tidak ada “choice” bagi para calon penonton disana.

Pada akhirnya industri film benar-benar menjadi sosok yang komersil, pilihannnya adalah apapun yang banyak ditonton masyarakat dengan tingkat “load factor” tinggi. Film-film seperti ini biasanya adalah film-film yang ringan dan tidak membuat orang banyak mikir ketika menonton. Film-film denga tema horror dan cinta remajalah yang kemudian menempati rangking teratas. Sehingga kita dapat mencermati bagaimana watak dan perilaku warga masyarakat di suatu daerah juga berdasarkan genre film-film di bioskop yang sering diputar. Inilah yang terjadi juga di Riau saat ini.

Film yang disuguhi kepada kita seringkali monoton, malah terkadang (maaf) terkesan kurang berbobot. Pesan yang ingin disampaikan menjadi sangat kabur, karena memang yang lebih dikejar adalah keuntungan belaka. Padahal film merupakan sarana yang paling efektif untuk menyampaikan pesan. Salah satu film yang menurut saya bisa memberikan pesan moral yang sangat baik adalah Film Laskar Pelangi, walaupun belum bisa ditonton disini, (karena memang belum tayang), namun novelnya sudah saya nikmati berulang-ulang kali. Harusnya film yang seperti ini, bsa menjadi prioritas tayang dari para pengelola bioskop. Pesan yang ingin disampaikan juga jelas, bahwa apapun kondisinya, bahwa pendidikan tetaplah menjadi prioritas utama. Ditengah suasana masyarakat kita yang serba materialis dan hedonis, saya pikir Laskar Pelangi bisa menjadi oase yang menghibur dan menyadari betapa beruntungnya diri kita. Di berbagai kota besar lainnya pun, film ini sangat booming, hingga meraup keuntungan yang besar. Tetapi di Riau film ini sampai sekarang belum bisa tayang. Apakah yang salah disini? Para pengelola bioskop yang merasa bahwa film ini dianggap tidak akan komersil jika ditayangkan, atau karena masyarakat sendiri yang tidak tertarik dengan film ini.

Seharusnya para pelaku perfilman di daerah khususnya Riau bisa memberikan hiburan yang lebih bermakna kepada kami calon penonton film. Kalau dengan alasan komersialitas, tentu nama Laskar Pelangi sudah cukup komersil diketahui oleh para penggemarnya. Berkaitan dengan upaya untuk mendukung pengentasan K2I, salah satunya di bidang pendidikan, tentu ada keselarasan disana. Upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Riau tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah saja, namun dorongan dari berbagai pihak menjadi hal yang mutlak juga diperlukan. Tak terkecuali di sektor hiburan, mereka harus bisa memberikan hiburan yang tidak hanya bisa menghibur, tetapi ada makna yang bisa menggunggah dari para penikmatnya. Laskar Pelangi adalah salah satu alternatif hiburan dan sekaligus sarana pendidikan yang cukup efektif dinikmati oleh masyarakat Riau. Semoga para pelaku perfilman di Riau bisa mendengar harapan dari kami penikmat hiburan yang tidak diberikan “choice” apapun.
Semoga.........